#CreativeCulture, An Introduction

Kreativitas bukan hanya milik artis dan desainer, melainkan milik semua orang. Kreativitas adalah bahan bakar dari inovasi, modal semua sektor industri.

Sayangnya kreativitas tidak datang dengan sendirinya, melainkan kombinasi antara referensi, kebiasaan, kenyamanan, dan tantangan. Kreativitas bisa terasah, dan bisa juga tumpul. Karena setiap bisnis membutuhkan inovasi untuk tumbuh lebih besar lagi, maka kreativitas harus menjadi bagian dari kultur perusahaan yang harus dipupuk. Di postingan perdana #CreativeCulture, An Introduction akan lebih membahas mengenai komponen dan seberapa penting penerapan #CreativeCulture dalam sebuah organisasi.

#CreativeCulture adalah pemikiran saya tentang bagaimana menumbuhkan iklim kreatif dimanapun, siapapun, dengan latar belakang apapun.

Bisa dalam organisasi, komunitas, atau lingkungan keluarga. Saya personal percaya, orang kreatif itu lebih hepi 😉 well, kadang depresi si, but, aren’t we all? Cuman orang yang kreatif yang saat jatuh bisa melihat sisi lain dan membalikan jadi kesempatan 😉
Kenapa “culture” bukan thinking atau personality? Karena saya percaya, kreativitas itu tumbuh semakin subur jika dia tidak berdiri sendiri, melainkan bersama-sama. Kalau sekeliling kita semakin kreatif, sedikit banyak kita akan tertular, meski daya penerimaan dan cara mengungkapkannya berbeda. Yang jelas kreativitas dibutuhkan siapapun dan organisasi apapun untuk menghadapi masa yang penuh tantangan dan persaingan untuk tetap berkembang.
Berdasarkan pengalaman dan beberapa bahan bacaan, saat ini saya mengkategorikan komponen atau bisa juga disebut dengan pilar, yang berdampak pada kreativitas seseorang:

1. Referensi

Semakin banyak referensi yang dilihat, semakin kaya pengetahuan seseorang. Bahkan terkadang, bukan berarti referensi terhadap suatu hal berasal dari kategori yang sama tapi dari hal lain yang diambil esensinya. Contoh: Tahukah Lampu mobil vw dan bmw mengambil inspirasi mata hewan?

2. Kebiasaan

Kebiasaan adalah hal yang paling subjektif. Bagi beberapa orang ada yang punya kebiasaan negatif biar kreatif. Tapi penting untuk mengenal kondisi diri sendiri dimana kita merasa bisa terkondisikan untuk kreatif. Jika telah menemukan beberapa, bisa diulang untuk dijadikan pegangan. Tapi diluar itu, ada pula beberapa kebiasaan yang bisa mulai dilakukan untuk membentuk kreativitas. Creative habit istilahnya.

3. Kebebasan yang terarah

Bukan bebas yang sebebas-bebasnya, tetapi bebas yang diberikan koridor batasan (bisa pula hal ini di konversi menjadi tantangan) dan yang bertujuan. Contoh: mau pergi ke Surabaya, mending naik apa dan lewat mana? Koridornya: jalur darat. Jangan dibatasi terlalu banyak tapi jangan pula dibiarkan terlalu luas.

4 & 5. Kenyamanan & Tantangan (Comfort X Challenge) 

Kedua unsur ini paradox tapi penting untuk dimiliki pada saat bersamaan. Tantangan adalah hal mutlak yang diperlukan untuk memancing kreativitas. Tapi kenyamanan apa yang dibutuhkan? Nyaman berdiskusi, nyaman mengutarakan pendapat tanpa baper, nyaman berpikir, nyaman lahir batin :)). Nyaman bisa menjadi landasan mulai tapi bisa juga menjadi bumerang jika berlebihan. Agak tricky emang. Tapi nyaman juga merupakan “tujuan” agar kita bisa segera menyelesaikan tantangan dan pulang kepada kenyamanan. Pabaliut* yah? Hahahaha.

Ada beberapa tulisan yang lumayan enak dibaca dalam menumbuhkan karakter kreatif dari seseorang, salah satunya artikel dari Scientific American ini. Tapi belum pembahasannya secara kontekstual. Mungkin kalau udah ada yang pernah baca boleh di share di kolom komen 😉

Tulisan #CreativeCulture nantinya akan mengangkat satu per satu komponen (pilar) di atas dan bagaimana menerapkannya. Tulisan tidak akan kronologis. Satu komponen (pilar) mungkin akan dibahas beberapa kali.

#CreativeCulture series:

#CreativeCulture: Onboarding New Employee alias Pegawai Baru

—–
#CreativeCulture adalah bagian kecil dari #HappinesManifesto, sebuah lifetime project untuk membangun kebahagiaan kecil dan besar di sekitar kita, baik atas landasan scientific maupun praktikal. Karena saya percaya, manusia paling bahagia adalah mereka yang berusaha meraih bahagianya dan merangkul semua emosi yang pernah dirasa 😉
*Pabaliut: memusingkan, berputar-putar (masalahnya)- Bahasa Sunda.

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *