Halaman Pertama Google Bukanlah Segalanya

Adalah hal yang lumrah bagi kebanyakan Brand untuk disadari kehadirannya di dunia maya di era digital ini. Social media, Search Engine, web banner ad, adalah beberapa kanal-kanal penyaluran kehadiran (awareness) di dunia online. Kali ini yang akan saya bahas adalah mengenai kehadiran brand/produk Anda di Search Engine. Yang paling beken tak lain tak bukan adalah Google. Banyak brand yang menginginkan namanya tertera disana dan banyak konsultan SEO (Search Engine Optimization) yang menjual untuk menaikan brand di halaman pertama. Cukupkah? Sayangnya halaman pertama Google bukan segalanya.

Sebelum membahas kenapa hal ini tidak cukup, ada baiknya kita tilik dulu kenapa orang berlomba-lomba mendapat kavling di halaman pertama. Ini kaitannya dengan kebiasaan onliners yang kala mencari sesuatu di google halaman yang paling banyak di klik itu ya halaman pertama Google. Paling banyak mereka membuka 1-2 halaman. Sukur-sukur ada yang tembus sampe 5 halaman/lebih. Tapi ya itu, kesannya kalo paling atas di halaman 1 itu paling banyak di cari dan paling relevan. 

Eits, itu baru dari segi relevansi keyword sama angka pencarian loh. Impactnya?

Siapapun pemilik brand akan mempertanyakan “Apa dampaknya bagi bisnis saya?” Kalau jawabannya “Nanti brand bapak bakal lebih dikenal masyarakat, Pak” biasanya akan ditanya balik “kalau sudah dikenal gimana taunya mereka mau beli produk saya?” Nah looo, jawabannya apa….

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita tau (dan paham) bagaimana sebuah Online Marketing Ekosistem bekerja (lihat gambar di bawah)

Bagan Online Marketing Ecosystem
Sebetulnya, ketika seseorang mulai mengetikan keywords tertentu itu sudah bagian dari awareness. Kenapa bagian? Karena keywords yang dimaksud bisa jadi kewords organik yang relevan dengan brand tersebut (sudah ada sebelumnya) yang (bisa jadi) meningkat akibat awareness terhadap brand terkait meningkat atau ya emang keyword itu “ditumpangi” oleh brand (semacam nebeng tenar gt) atau bisa juga keyword tertentu yang diarahkan brand agar audience mulai mencari tahu– yang berakhir di website atau kanal yang memang telah diarahkan. Diarahkan via SEO, iklan-iklan (baik offline maupun online), dan sponsorship.

But anyway, muncul di halaman pertama hasil search barulah menjawab tahapan pertama, yaitu tentang visibilitas aka level Awareness.

Kalau udah muncul di halaman 1 lalu diapain. NAH, ini nih yang penting! Dari bagan di atas aja masih ada 3 step setelah Awareness, sementara muncul di halaman 1 Google itu baru Awareness. 1/4 tahap cyiin! Itu belum memberi efek apa-apa sampaaaai…..di klik. 

Sebetulnya sih yang ditulis di atas sudah menjawab judul postingan ini 😛 tapi gak kuku kali yah kalo gak sekalian dibahas semuanya. Yuk marii….

Kenyataan pahit adalah, jika website/link yang kita inginkan sudah masuk di di halaman pertama tapi GAK di KLIK. Klik adalah urusan relevansi. Kalau si pencari tidak merasa dari tampilan search yang dicari “nampaknya” kurang sesuai dengan yang dia cari ya mboh di klik. Relevansi ini sangat erat kaitannya dengan copywriting. Emang sih yang muncul di Google hanya tampilah 2 baris. Tapi, ya itulah wahana persuasif si website biar di klik sama si pencari. Jadi, kalau ada di halaman 1 Google tapi gak di klik maka…..sama aja boong :p Itulah tahap consideration.

Jangan membuang klik meski hanya 1 kesempatan. Ketika orang sudah men-klik ke website kita, manfaatkanlah semaksimal mungkin. Jangan sampai ketika udah nge-klik link kita terus …close window. FAIL. Ini sih balik lagi jadi sama aja boong. Tiap klik yang masuk ke website kita harus berarti. Kalo gak salah ini sih inti dari tahap Favorability. Kalau dia mentelaah website/landing page dari hasil klik Google tadi, berarti kita sudah semi berhasil. Mentelaah itu bisa jadi dia lama baca si halaman terkait dan coba klik-klik yang lain, atau di share juga bisa. Ngaruhnya ke bounce rate (tingkat pentalan website–yg buka 1 halaman langsung caw atau bentar banget di halaman itu; less than 10 second lah)

Biar dibilang berhasil, tiap klik yang masuk ke website kita harus di konversi. Base on bagan di atas, namanya Purchase Intent. Caranya banyak, bisa langsung beli (ada semacam form-nya kalo e-commerce website), bisa juga daftar jadi subscribers, bisa sign-up (kalau emang arahannya untuk sign up). Itu sih yang bisa ke detect langsung di website. Intinya adalah membuat pengunjung itu melakukan objektif yang kita arahkan. Kalau objektifnya sales, ya berarti mengundang pembelian atau (setidaknya) menciptakan keinginan untuk membeli.

Jadi kalau ditanya sama klien “Dampak SEO ke bisnis saya apa?” udah bisa jawab lah ya.Back to objective dan  semisal objectifnya sales, ya itu bahasannya di atas 😉

By the way, awareness itu imho bukan objektif loh, itu mah kewajiban kl di online 😛 Butuh lebih spesifik dari sekedar “creating awareness” di ranah online. 

So, masih ada yang bangga nampang di halaman pertama Google (ajah)? #kemudiankabur :)))


Dirangkum dari sharing bersama pak @nukman 

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *