Sampah Karimun Jawa Part I

Karimun Jawa, mata hati Pulau Jawa.
Mungkin sebagian besar dari kita telah mendengar kata Karimun Jawa. Apa yang terlintas pertama ketika mendengar kata itu? Snorkeling! Yap, gugusan kepulauan di utara Jawa ini kerap kali dikenal sebagai salah satu tujuan wisata dengan daya tarik utamanya adalah snorkeling (di berbagai pulau), wisma apung, dan penangkaran hiu/penyu. Sudah berapa lama kalian mendengar tentang karimun? Apakabar karimun yang dulu dan sekarang?
Saya sendiri kurang paham sejak kapan wisata karimun ini booming. Yang jelas, saya sih pertama kali dengar sekitar tahun 2006. Tapi 2 taun terakhir ini (2009-2010) nampaknya buanyaaak sekali travel agent yang memfasilitasi paket perjalanan ke pulau ini, dari yang level backpacker sampai yang koper. Fenomena ini juga didukung oleh perkembangan social media, karena sekarang travel2 ini banyak yang basis promosinya di Facebook (meski pada umumnya memiliki website juga). But anyway, akhirnya setelah sekian lama mupeng, 2011 ini, saya, akhirnya, menyentuh juga tanah pasir karimun.
Well, disini saya gak mau banyak cerita soal pesona dan keindahannya. Tons of the stories already spoke by people, either in the real life or in the Internet. I wouldn’t deny those, but I will criticize some and I’ll give you a fact that anyone can’t deny.
Cara saya menyampaikannya adalah dengan per-thought- yang tiap poin ini sebetulnya memiliki korelasi pada simpulan ahir. Tapi sebelumnya, saya kasih bocoran tentang apa.
Masalah klasik: sampah.
——————1
Ketika sedang di atas Kapal Muria yang (bagi saya) penuh kaya sarden, tiba-tiba terpikirkan:
Karimun Jawa: 6 jam dengan kapal ekonomi, 3 jam dengan kapal cepat. Diperkirakn 8000 penduduk bermukim disana dengan arus sirkulasi wisatawan yang stabil. Penduduk asli secara berkala pergi ke daratan (Jawa) untuk meng”impor” bahan makanan : telur, beras, dan sayuran tahan lama.
KM muria yang (katanya belum penuh) kali itu diperkirakan dinaiki oleh 400 orang (yang banyak diantaranya gak dapet tempat duduk dan “ngampar”, baik di lantai dek kapal, atap, maupun areal parkir kendaraan). Menurut kesaksian pak penjaga, KM muria bisa lebih penuh lagi: 700 orang. Itu biasanya kala puncak liburan 😐 kok gak tenggelem ya?
Jika tiap wisatawan seperti saya memegang minuman botol, dan pasti banyak diantaranya membawa cemilan dkk dari “daratan” jawa, maka, apa yang terjadi dengan sampah2 ini begitu kita sampai d karimun?? Berani jamin pulau kecil kaya gitu ga punya TPA yg memadai. Terus? Masa Laut? *gak berani ngebayangin* Kayanya penyelesaian paling singkat di bakar deh
Conclusion tahap 1 :
Beli aer literan aja, botol nya dipake ulang, dan gak  beli cemilan baru selama perjalanan dan disana, dan sampahnya di taro tas, biar di bawa ke Jawa lagi *saya dan temen2 saya melakukan hal ini
————————2
(masih) di KM Muria. Hmm, banyak dari travel agent berbeda-beda. Mereka semua paham laut ga yah, apa yg boleh, apa yg ga boleh?
*buka amplop* 1 stiker, 1 tiket kapal, 1 selebaran ttg terumbu karang. Full teks, A4, 2 kolom. –not that attractive yet they are trying.
——————–3
6 jam di jalan laut, no AC, tempat sumpek, sebelah ibu-ibu bawa bayi baru seminggu. Dan TV berisiiii….. karokean….wali band, ungu, st12, apapun…6 jam, karokean? Gadakah hal lain yang bisa dilakukan tv itu?
————-4
Nice weather, calm water. Agenda dari si travel agent kebanyakan snorkeling di berbagai spot, makan siang di pulau, dan makan malam sendiri. Karena seharian mengalungi laut (saya gak bilang samudera karena emang bukan), maka makan siang dibekal dari pulau utama dan dimakan biasanya setelah 1 x snorkeling.
Makan siang pertama, pulau cemara. Sebuah pulau yang tak berpenghuni.
Mungkin karena sinyal saya sensitip ketika makan siang saya langsung ngeh. Oh hell. O, sterofoaaaaaam. 500 year buat diurai tanah, mau dibuang di karimun belah manaaa? Tapi pas selesai sesi makan siang, dan semua bekas makan dikumpulkan lagi di (oh yah) plastik merah, saya berpositip thinking. Oh, dibawa lagi ke pulau utama meski saya juga pesimis di pulau utama di apain. Then, naiklah saya ke kapal untuk perjalanan ke pulau selanjutnya.
Jeng jeng
Dari jauh saya melihat samar2 merah di kejauhan. Holy shit. They leave the garbage, our garbage … 😐
———–5
Perjalanan, kadang bersih, kadang terdapat bbrp sampah : sendal swallow rusak, chiki-chiki atau pilus, rinso atau molto.

Konklusi : sampah anorganik kemasan produk rumah tangga dan/atau kemasan makanan

——-6
Ibu-ibu menyiapkan bekal makan siang di dapur homestay. Bekal dibungkus sterofoam.
Hari ke-2, another makan siang session. Kali ini promotor kami udah dihimbau sama teman saya (yg anak bioligi) dan saya untuk tidak meninggalkan sampah di pulau2 kecil.
Fakta 1: tidak diindahkan
Fakta 2 : ketika pulang dan berselisih jalan dg travel lain, ternyata mereka melakukan aksi yang serupa 😐
—-7
Hanya (sebentar sekali) dikasih hibauan pada wisatawan grup kami agar jangan sampai matahin karang dan hanya hinggap di karang keras. Ok, gw tau karang yg boleh yg mana. Trus gada yg nanya gt karang keras kaya apa?
Fact: gw sering kali menemukan si wisatawan berdiri dan mencoba berdiri di karang yg salah. Dan haleluyaa, guide kami tidak mengingatkan sma sekali. Kalo saya nemu beberapa si langsung dingetin dan sambil mawas diri dimana saya ber-manuver, tapi kan kan kan, saya jg pengen menikmati.
Jadi , salah siapa?
Jadi pengen tau, sejauh apa sih permasalahan sampah di pulau ini hunting mode ON
And, here we go: conclusions and suggestion. Ada beberapa keyword yang dapat diambil :
Sampah, sterofoam, makanan siang, jumlah wisatawan, cemilan, botol minum, tv, travel agent, terumbu karang, snorkeling, 6 jam, plastik.
Keywords tersebut juga merupakan core masalah.
Konklusi singkat : REDUCE, RE-USE: Kurangi, ulangi

Apa yang kurangi? Apa yang gunakan kembali? Anyone?

*to be continued*

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *