Jakarta, Kota Mode Dunia? Mungkin Gak Sih?





Sebelum kita mulai, saya mau ngasih tau dulu nih, saya bukan pelaku maupun pengamat fashion. Dibilang pemerhati pun mungkin tidak terlalu. Tapi yang jelas, saya bisa nengok ke Jakarta Fashion Week asal muasalnya dari bonus yang dikasih Majalah Cita Cinta 1 tahun silam. Bukannya sebelumnya gak tau, tapi sekarang lebih aware aja.  

Jadi, kalau kamu ngarep bakal baca taun ini Jakarta Fashion Week 2010/2011 (JFW 2010/2011) bakal desain yang kaya gimana yang akan hip, atau desainer apa kemungkinan akan ngeluarin gaya apa, kamu salah besar baca artikel ini. Terus apa yang dibahas dong?? Well, saya lebih bakal ngebahas: Emang bisa ya Jakarta jadi the next kiblat fashion dunia? Mau tau? Lanjuut : D

Jadi, bisakah Jakarta menjelma menjadi Kota Mode Dunia?


Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin ada baiknya kita lihat dulu ke belakang (mempelajari sejarah itu penting lho, soalnya kita bisa menemukan pola), ke perjalanan para pendahulu kota dunia. Thanks buat Ijal, dia cerita kalo kota mode dunia udah gak cuman Paris lagi, tapi kini menyebar ke Milan, London, New York, lalu Jepang. Banyak hal yang bisa dipelakari dari perjalanan kota-kota tersebut ke kancah mode dunia. Dari sana akan muncul parameter-parameter yang dapat kita lihat apakah di Jakarta ini telah ada/belum.


Mari kita mulai dengan kota yang paling romantis sedunia, Paris.

Paris memang muncul sebagai kota mode dunia karena pengaruh sejarah. Sebagai sebuah Negara besar yang memiliki , maka fashion adalah sebuah tolak ukur kemajuan, ekonomi, serta intelektualitas bangsa.

Yang harus diperhatikan juga adalah Paris sebagai ancestor (penggagas) memiliki 1 nilai lebih di mata dunia. Ini berlaku untuk hal apapun, gak Cuma fashion. Well, berhubung Jakarta jelas-jelas bukan yang pertama, kita harus mengejar poin lainnya.

Selain itu yang bisa diambil dari tumbuhnya Paris sebagai kota mode dunia karena banyaknya Couture (adi busana) yang diadakan. Inti dari si couture ini sih yg bisa di praktekan adalah pentingnya fungsi kounikasi massa utnuk menyebarkan si paham “fashion” ini, pula, couture ini sebenernya ajang edukasi fashion bagi masyarakat. Tapi, jangan pernah dilupakan, kuantitas harus berbanding dengan kualitas. Standar mutu tidak boleh dibanting 🙂 jadi sebenarnya yang aku liat sih, kayanya event macam JFW itu mesti sering-sering di adakan, hanya berbeda skala.
Lalu, kenapa bisa bergeser gak di Paris lagi?

Yah, walaupun bergeser, sebetulnya gak lepas dari Paris, karena pada mulanya orang-orang yang bergelut di sana tak lain tak bukan biasanya pernah menganyam pendidikan fashion di Paris, entah sebagai murid, intern, atau bahkan kerja disana. Tapi bukan berarti kota-kota baru ini hanya menebeng nama besar pendahulunya. Mereka pun menawarkan kebaruan DAN system publisitas lebih besar dari pendahulunya: public figure.

So, apakah karya-karya fashion Indonesia sudah menjadi konsumsi public figure (dalam hal ini) kelas dunia? Tapi jangan salah juga, pakaian yg dikenakan harus dapat di rekognisi ke-Indonesiannya. Salah satu contoh sederhana adalah “Madiiba Shirt”- sebutan kemeja batik yang seringkali dipakai oleh presiden Amerika selatan, Nelson Mandela. Bukannya gak boleh bangga nih si batik khas Indonesia dipakai orang caliber dunia, tapi masalahnya, orang tau gak itu emang “Indonesia banget”. Kita yang orang Indonesia sih jelas tau, tapi orang lain? Sebuah akantor bertia pernah menulis artikel bahwa rakyat Afsel selama ini gak tau kalo yg dipakai Pak Nelson itu batik khas Indonesia. Mreka hanya menyebut itu madiba’s shirt, pakaian yang khas dikenakan oleh nelson Mandela. Masih bangga?

Dari contoh kasus itu, terlihat bahwa bukannya batik-nya yang enggak diakui, tapi meskipun masyarakt internasional sudah mulai mengenakan batik, nama/brand/istilah yang membalutnya turut menyumbang dalam menyukseskan/member citra pada si produk tsb. Kalo di liat-liat, sering deh kita temukan nama-nama koleksi baju yang sangat “prancis” (mungkin biar ikut nebeng sukses kaya prancis kali yah, ato biar terdengar keren aja?). Bukannya salah, tapi kl emang pakaiannya ada hubungan sama prancisnya sih gakpapa, kalo gada? Hmmm… kalo menurut ku sih, ada baiknya, koleksi itu dibuat dalam bahasa Indonesia. Paling nggak kalopun pakai bahasa Inggris/yang laen, terjemahan bahasa indonesianya selalu 1-2 (sebelahan) dengan bahasa asingnya deh. Itu identitas loh, orang langsung ngeh kalo itu Indonesia. Atau kalau memang ingin bahasa asing saja, setidaknya ada frase yang sooooo Indonesia di dalam judul koleksinya, missal “” . Takut dinilai dari nama Indonesia duluan trus idah down gara2 namnya? Pede aja lagi…. 

Style is knowing who you are, what you want to say and not giving a damn. Gore Vida.

Apa gunanya kalau si koleksi bahkan gak mencerminkan apa dan siapa elo 😛


Satu lagi mengenai kebaruan. Kayaknya udah terlalu banyak dan terlalu lama sejak si fashion itu sendiri muncul, maka kayaknya sekarang semua hal itu sebenernya berputar, gak ada lagi kebaruan, yang ada kebaruan semu. Lhaaaa, terus kalo udah pertama engggak, terus gak baru pula, terus orang mandnag kita dari mana??


Well, kebaruan itu di dapatkan dari 3 cara : discover (menemuan dari yg belom ada), innovate (membuat produk baru dari bahan yg ada sehingga memiliki nilai/nilai guna lebih), modify (mengubah sebagian dari yang telah ada sebelumnya). Lalu, apa yang kita punya?

Kayaknya udah berjuta kali diungkapkan kalo Indonesia kaya budaya, ragam ,corak, alam, etc. Pengolahan material, corak, dan lain2. Well, emang bener kok. Itu semua emas, sayangnya masih emas batangan. Mereka berharga dan bernilai tambah, tapi jika tidak di olah, peningkatan harganya pun gakan signifikan. Para desainer lah yang menempa emas itu. Merekalah tangan-tangan peracik “The New Form of Gold” 🙂

Dan, saya sih punya pesan (halaah, sok pintarnya awak ini..). Pernah dengar, ayah kencing berdiri, anak  kencing berlari kan (hayoo, siapa yang gak lulus ujian Bahasa Indonesia nih?) Intinya, murid seyogyanya lebih pintar dari gurunya. Lho, apa hubungannya dengan mode? Well, ragam, kekayaan, corak, dan seterusnya adalah hasil dari para pendahulu kita, anggaplah ayah kita. Dan kesemua itu ada bukan untuk dianggurin, itu semua modal, agar selanjutnya kita memiliki variasi khasanah yg lebih luas ketimbang “ayah” kita.

Kalau pada akhirnya desainer Indonesia sangat mengekor barat dan mengagungkan barat tanpa sadar potensi sebenrnya dari mereka apa, wah, sayang banget. Tapi bukan berarti ilmu yang kita dapat dari barat di kesampingkan, tapi harusnya di padukan dengan ke khas-an cita rasa nusa ragam nusantara sehingga desain itupun dengan sendirinya “speak out, speak loud” as a design from Indonesia.


Jadi, knapa Jakarta? Jakarta sebagai perwakilan dari Indonesia (pras pro toto), Jakarta sebagai icon dan symbol dari Negara kita, harus memberikan khasanan mode yang dapat terdefinisi bahkan oleh pihak asing sebagai suatu piece dari Negara bernama Indonesia.

So, apakah di JFW 2010/2011, yg merupakan benchmark perkembangan fashion Indonesia nanti kita kesemua hal yang di atas itu terjawantahkan? Karena jika iya, saya percaya, impian  Jakarta Fashion Week 2010/2011: Menuju Jakarta, Kota Mode Dunia, BISA. Mari kita lihat bersama 🙂

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *