Soekarno dan Chauvinismenya

So, terkadang saya mikir ikin marah pdamu wahai bung-karno. Keberadaan mu terlau kuat sehingga membuat orang selalu terbayang2 atas keberadaan mu sebagai figure yg mereka butuhkan. Bahkan Rasulullah tidak menghasilkan impact yang seperti itu. Yang dicari pada akhirnya adalh esensi dari orang yang mengamalkan islam dengan cara sunah rasulullah. Tak ada orang mencari2 figur rasulullah kembali. Padahal bentukannya mirip, dimana esensi bung karno adlah nasionalisme kebangsaan Indonesia, tapi semangat ataupun energi kebangsaan (egitulah ak menyebutnya) menjelma dalam pemfiguran bung karno. Dmana orang2 yang pernah mengalami era-nay terjerembab kedalam romantisme masa lalu. Mengelu-kan meninggikan bahwa sebenranya energi ini tersimpan di dalam diri banyak ornag hanya saja dalam bentuk pengejawantahan yang berbeda tidak mereka terima. Hal inilah yang membuat saya bersedih. 
Sikap dan tindakan antipati, kepada siappaun itu yang berdiri di depan, garda, (mencoba) membangn Indonesia disalahkan, dan selalu dicaci tanpa pernah ada pertimbangan appaun mendukngnya. Sedangkan hal2 yang diembel-embeli Bung karno dan marhaensime yang dulu jaya pada masanya di elu-elukan dan dianggap paling benar padahal tanpa ada parameter dari kebenaran nya itu sendiri. HEiiii! Apa ini?! Terkadanagaku merasa ada baknya orang2 yang pernah merasakan era ini usnah dengan bersi sehingga semua pendapat kembali menjadi objektif. Adalah pencapaian itu diukur dengan meda, karakter dan usaha, bagi bung karno maupun orang lain yg nantu maju aau kan mau. Dan ung karno bukanlah suatu titik akhir pembanding, yang haris disama-samakan, maupun di persamakan. Tapi Esensi dari energi itu sendiri., itu yang penting,

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *