Revolusi offline-online-2.0 terhadap desain web

Online.

Nampaknya kata-kata ini menjadi sangat hip akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, sejak kemunculan internet di Indonesia (skitar akhir 90-an), pertumbuhan internet dalam decade terakhir ini berkembang sangat pesat. Terlebih lagi dengan maraknya situs/website jejaring social yang memiliki massa luar biasa. Sebut saja facebook, yang penggunanya kini di Indonesia telah mencapai angka21,5 juta akun.

Hmm.. apa artinya? Bisa dibaca di sini.

Tapi kali ini yang akan saya bicarakan adalah mengenai habit, sebuah kebiasaan yang terbentuk akibat pesatnya teknologi itu sendiri dalam kaidah interaksi dan desain (wih, bahasanya). Kali ini yang akan saya angkat mengenai berita. Dulu kita mendapatkan berita dari media cetak seperti Koran dan majalah. Perputaran update beritanya ada dalam kisaran hari,minggu, bahkan bulan. Semua media pasif, yang menunggu aksi kita untuk membaca. Lalu datanglah televisi. Media yang hangat ini hanya meminta audience untuk menyalakan tv, lalu mereka menjabarkan berita lewat media audio-visual. Lalu datanglah internet. Media ini adalah sebuah virus dan ajakan maut: menuntut orang mengaksesnya namun kembali berunlang kali sehingga menjadi sebuah kebiasaan baru yang berkembang serta sebuah ketergantungan. Audience menjadi lebih aktif daripada sebelumnya, dimana mereka cenderung mencari yang mereka inginikan dibandingkan sekedar menerima informasi yang ada. Audience juga dapat menyeleksi. Tapi di samping itu pula, input yang dating pada audience segitu banyaknya, segitu besarna, hingga arus informasi dihantam terus. Tapi tetap, audience dapat memilih informasi dengan menentukan sendiri web apa yang akan mereka akses.

Lalu datanglah teknologi web 2.0. Apakah Web 2.0 itu? Yah, dari pada repot buka Wikipedia, intinya teknologi ini ,mengadaptasi pada kehidupan REAL TIME achievement. Apa yang Anda post sekarang bebapa detik kemudian sudah bisa dilihat ataupun diakses seluruh dunia. Hal ini banya diterapkan di situs jejaring social layaknya facebook atau twitter. Tidak ada batasan jeda waktu. Lalu apa akibatnya?

Perputaran waktu menjadi cepat. Tak ada batas wlayah. Arus nperputaran informasi pun membanjiri audience lewat berbagai media. Akibatnya?

Kembali pada ahasan kita mengenai bagaimana audience memperoleh informs/berita, dalam dunia online, web yang memiliki fungsi seperti yang disebutkan sebelumnya adalh portal. Portal, selain menu bar, tentunya berisi berita dan kategori, serta bahasan di dalamnya, baik yang sifatnya teaser (untuk dilanjutkan, silahkan klik read more>> ) atau yang langsung terpampang. Portal umumnya di update dalam periode2 tertentu. Tapi, dengan hadirnya Web 2.0, merubah kebiasaan masyarakat, dan menuntut portal untuk berevolusi. Lho, memangnya masyarakat kenapa?

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, arus informasi yang dating saat ini membludak. Pada akhirnya, audience terlalu lelah untuk membaca banyak-banyak. Akibatnya, audience cenderung skipping saat membaca, tidak lagi 1 paragraf dibaca tok. Juga karena kecepatan arus informasi yang terjadi, dibandingkan topic tertentu, audience lebih tertarik pada hal yang terbaru: apa yang paling update, berita yang paling anyar.

Kecenderungan yang lain adalah audience kini lebih suka menyimpulkan hal dengan membaca judul. Ibaratnya, dengan baca judul, saripati berita telah diketahui. Jika dia tertarik baru dibaca lebih lanjut. Dibaca lebih lanjut juga belum selesai. Berita yang ada saat ini di portal lebih kepada berita permukaan saja. Jika ingin mengetahui secarautuh berita tersebut biasanya harus membaca judul berita-berita terkait (coba saja buka detik, di bawahnya suka muncul berita sejenis bukan?) Itu untuk mengantisipasi orang yang ingin tahu berita, tapi ingn menggali lebih dalam. So, copywriting memegang peran penting disini karena orang cenderung pay attention ke judul. Jadi judul sudah harus merupakan summary dari berita itu sendiri.

Kebiasaan-kebiasaan di atas mau tak mau merubah struktur pola piker desain. Bagaimana tidak, orang yang emang bertujuan mencari informasi lebih mengedepankan berita teranyar daripada berita yang benar2 dia cari. Pengkategorian informasi dikebelakangkan (karena informasi terbaru belum tentu dari rubri yang dianggap utama). Keterbacaan di utamakan, desain di efisiensikan. Focus of attention is the newest news. Tipografi menjadi ujung tombak. Belum mengerti? Ck situs situs ini yuk:

– http://www.nytimes.com/

– http://www.wired.com/

– http://www.csmonitor.com/

– http://www.salon.com

– http://www.financialtimes.com

Dan buat perbandingan yuk kita bandingkan dengan

– http://www.kompas.com

– http://www.detik.com

Dan demi alas an efektifitas pula, maka terjadi suatu standarisasi, dimana satu sisi web paling tidak berukuran 300 px.(Untuk tahu ukuran web standar internasional bisa di cek di sini). Hal ini untuk memfasilitasi banner ad standar internsional. Dan ini telah diterapkan hampir di semua aspek web portal kini. Pada 3 situs web portal pertama, poni of attention jelas sekali dengan ukuran bar. Smua lebih mengutamakan judul. Kategori tidak terlalu diprioritaskan (terlihat dengan ukuran font yang kecil) serta posisi headline yang bisa berubah bergeser sewaktu2 sesuai waktu update.Ini merupakan tampilan awal yang penting. Hirarki terpenting. Baru setelah itu bila di scroll down, pengkategorian headline berdasarkan topic terjadi juga berita-berita dengan uraian pendek. Api umumny aorang sudah malas scroll down ke bawah bukan? Tindakan umumnya datangpada saat first impression, yaitu ruas pixel picxel pertama ketika waktu load selesai. Kecuali benar2 mencari berita tertentu. Sementara, seperti yng tlah diungkapkan sebelumnya, mayoritas orang membuka web adalah : “ hey, whats new?” Inilah inovasi yang tepat menurut Pak Nukman Luthfie.

Daan, mari kita bandingkan dengan 3 web selanjutnya. Detik.com telah mengikuti standarisasi banner internasional. Hanya saja, dia masih menerapkan system lama dengan subheanline yg lumayan. Tapi kategori sudah blend. Lain halnya dengan kompas. Begitu dibuka, lho, kok malah gambar subjek utamanya? Padahal kan yang dicari itu berita, nah lo nah lo…

Pada intinya, mengingat kebiasaan baca masyarakat ynag sudah berubah, web (portal) pun harus mengalami penyesuaian, Dan menurut Pak Nukman, koridor yg tepat adalah seperti si wire dkk itu. Kita harus memiliki wireframe yang tepat, pemilihan huruf (tipografi) yang terbaca, desain yang efisien, serta pemilihan kata (copy) yang tepat. Dan selamat datang di dunia 2.0 😀

*Disarikan dari ngobrol bareng pak nukman bareng anak2 tim kreatif di virtual consulting.

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *