Sari dari DFB 2009 Book Discussion

Jakarta, 6/2

Hola!

Kali ini saya akan menbuat review mengenai diskusi tentang buku fotografi Jerman. Diskusinya sendiri berlangsung di Goethe Institut Jakarta dengan mendatangkan 3 pembicara:

Lans Brahmantyo (R&W publishing),

Jerry Aurum
(Photographer),

Josh Estey
(LA Times, Photographer)

Moderator:
Sinartus Sosrodjojo (
Media Indonesia)

Acara ini memang diselenggarakan atas kerjasama Goethe Institut dengan Panna Foto Institut. Diskusi ini merupakan bagian dari DEUTSCHER FOTOBUCHPREIS 2009 yang berlangsung 2 – 13 Februari 2010, GoetheHaus – Jakarta, Pukul : 11:00 – 18:00 WIB



Diskusi berlangsung dari pukul 15.00-17.00. Berhubung saya agak terlambat (37 menit), jadi saya hanya akan mensarikan yang saya dengar saja yah ;D

Sebelumnya saya kasih tahu dulu, terdapat BUANYAK buku yang bertebaran dalam pameran buku ini. Dapat dikatakan seluruhnya merupakan terbitan publisher Jerman. Meskipun demikian, beberapa buku dilengkapi dengan bahasa inggris bahkan 5 bahasa sekaligus. Tapi, yah, itu, mayoritas bukunya berbahasa Jerman, jadi kurang dapat menyimak info yang disampaikan.

Buku-buku ini terbagi atas beberapa kategori besar: nominated, bronze, silver, dan gold award. Genrenya sendiri bermacam-macam. Ada yang pure journalism photography, fashion, wildlife, essay, dan ada juga buku dimana fotografi menjadi element yang penting (jadi foto itu melengkapi isi dan bukan foto totok) dan buku tentang fotografi itu sendiri (sejarah, teknik foto, etc). Kalo kalian punya waktu, ok banget berkunjung kesana buat wawasan dan referensi yang senjablek. Jarang2 hampur seratus buku gitu nongol barengan di satu tempat.

Saya bahas diskusinya dulu yaaa baru pamerannya.

Ketika saya datang, diskusi tengah mengarah pada *saya tidak tahu kemana*. Hahaha.. Yang saya tangkep sih simpelnya demand buku fotografi masih sangat kurang di Indonesia, apalagi mengingat harganya yang mahal (mayoritas di kisaran 500-700 ribuan. Bahkan beberapa diantaranya mencapai 1 jutaan. Kalimat pertama yang saya dengar dari diskusi ini adalah

“Fashion is loose, but journalism photography juga semakin mendekati gaya fashion.”

Itulah kurang lebih yang dikatakan Sinartus Sosrodjojo (SS) selaku Moderator. Jerry Aurum (JA) mengungkapkan foto potraiture bisa dikatakan foto fashion, misalnya. Hal ini menunjukan bahwa sebetulnya batas dari jenis foto itu sendiri sudah blurry— Which is good. Dan sebetulnya, membuat suatu buku fotografi itu sendiri merupakan gambling, atau take the risk. Publisher akan berani melakukan itu apabila mungkin karakter fotonya yang cukup extra ordinary dan –tentunya—memiliki pangsa pasar, –Lans Brahmantyo(LB).

Sesi pertanyaan dibuka. Sayangnya saya kurang menyimak nama si Bapak yang bertanya. Pertanyaannya kurang lebih seputar pameran dan katalog. Terkadang fotografer yang terlihat hebat sombong apalagi pada pamerannya justru menyedihkan keadaanya (baca: kere). Yah mungkin itu adalah sebuah contoh keadaan. Kalau sudah begitu, gimana mau bikin buku?*

Dan mari kita berbincang mengenai katalog. Umumnya pada tiap pameran foto di Negara ini, tentu memiliki katalog. Terkadang katalog ini dicetak amat massal, dan dibagi-bagikan secara gratis. Katalog ini dapat dikategorikan sebagai promosi dari pameran. Lebih dari itu, ada nilai yang dapat diterobos. Katalog bahkan menerobos keterbatasan buku itu mahal karena seringkali terdapat statement “udah ada katalognya, ngapain beli bukunya?” dan menentang konsepsi bahwa “buku itu mahal.” Well, apakah itu dapat dikategorikan sebagai perusak pasar?

Pertanyaan sekaligus pernyataan ini ditanggapi dengan “Dalam urusan katalog, Indonesia cenderung sangat generous, terlalu massal” (SS). Di luar negeri, katalog bisa dibilang diberikan kepada khalayak tertentu saja. Dari(LB) merasa bahwa sepertinya hal ini (nampaknya) tidak merusak pasar, seperti yang dibicarakan. Sementara itu Jerry Aurum memiliki kecenderungan untuk tidak membuat katalog. Katalognya yaa si buku itu. “Orang itu kalo udah dapet katalog cenderung ngeliat pameran asal-asalan” tuturnya.

Rekan sebelah bangkunya (yang saya juga gak tau namanya siapa) kemudian melanjutkan pertanyaan sebelumnya. Beliau pada beberapa kesempatan insist bahwa pada tiap pameran, mesti ada katalognya. Katalog itu penting karena merupakan jejak, respon dari betapa sulit dan mahalnya kalau menargetkan sebuah buku. “Dan mungkin kalau dijual, bahkan untuk harga yang 10 atau 15 ribu, kita masih gak bisa nentuin berapa yang pas. Bandingkan dengan buku yang ratusan ribu.” Katalog bisa jadi merupakan strategi ketika pasar itu gak ada, demand itu kurang. Dan yang paling penting, katalog adalah bukti, jejak, bahwa pameran itu ada, dan gak langsung dilupakan.

By the way, sedikit keluar dari seminar, saya pengen sedikit berbagi. Saya pernah mengadakan pameran di kampus. Pameran ini saya adakan bersama teman-teman dari unit yang sama. Foto yang dipamerkan merupakan hasil hunting bersama ke daereah Ujung Genteng. Evaluasi yang saya dapatkan dari pameran itu adalh selain waktunya yang kurang panjang adalah mengenai ketiadaan katalog. Masukan ini saya peroleh dari pengiat foto Bandung: Dudi Sugandi dan Galih Sedayu. Dibandingkan mencetak poster banyak-banyak untuk media publikasi dan dibuang begitu saja setelah acara usai, ada baiknya undangan justru lebih baik disampaikan lewat sms atau media internet dan dana dialihkan untuk membuat katalog. Seain itu, katalog ++ pun bisa. Maksudnya katalog dijadikan 1 dengan poster pameran. Semacam poster 2 sisi. Amanah ini akhirnya dilaksanakan pada pameran Jogjakarta yang diadakan pengurus selanjutnya setelah saya. Tapi yaa itu, thumbnailnya bener2 segede thumb jadinya :’D.

Enough untuk katalog, beliau kemudian bertanya “Hal apa sih/ide kreatif apa yang bisa menarik pasar?”

Pembicaraan lalu beralih pada kenapa 2 buku yang tadi dibahas di depan mendapatkan Golden Medal. SS memberikan pengantar bahwa “Win a golden doesn’t mean have a great selling point.” Pada akhirnya juga, penilaian atas menang-kalah dari kesemua buku ini adalah subjektif. Josh lebih menekankan pada stlye dari buku itu : kesederhanaan, objek yang dipilih, konsistensi. Dan yang paling penting adalah : it’s a life work. LBlebih menilai pada aspek special effort dalam meng-create si buku. Sacrifice—pengorbanan yang dilakukan dalam proses, seperti 6 tahun hidup dalam gypsi world. Selain itu, beliau juga menyukai gaya scrapbook, sketsa dan coretan awal. Orang-orang kita (abca: orang Indonesia) cenderung kurang mengarsipkan hal seperti ini kurang baik. JA lebih menekankan pada aspek desain, dimana umumnya desain model scrapbook adalah desain orang muda dan terkadang berlebihan. Namun pada buku ini, scrapbook nya gak lebay namun tetap ada gimmicknya. Ini merupakan hasil dari sebuah desain yang hati-hati. Dan pula dari buku-buku ini mengedepankan pada prose’s, misal fotografi fashion gak mulai dari fashion dst *jujur aku kurang ngerti kalimat terakhir ini*.

Terkait dengan kalimat terakhir di atas, SS bercerita mengenai sesorang yang tadinya ga bergelut di foto dan keluar dari industri fashion itu sendiri tapi kemudian menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia fashion photography. Check theshutterrelease.blogspot.com/ Blog ini menyampaikan berbagai gaya orang di jalanan New York tiap harinya. Suatu hari pada akhirnya dia mengeluarkan buku, dan laku. Pelajaran yang dapat diambil dari sini mungkin sebelum terjun bikin buku kita sudah Introduce ourselves dulu ke dunia. Yaahh..gak usah lewat media mahal, blog kan cukup. Bahkan blog ini bisa dijadikan parameter market research juga lho.

Lanjut pada pertanyaan ke tiga, tentang identitas. Seorang penanya mengemukakan mengenai krisis karakter yang dimiliki oleh fotografer Indonesia. Kalo Sinartus melihat bahwa fotografer kita suka kebanyakan gaya. Kalau kata JA karakter itu harus terbentuk natural, gak sadar. Dimulai dari minat yang besar, ketekunan, dan kejar teruss, jangan terlalu berpatok pada 1 jenis foto sebelum kenal yang lain. Menurutnya juga, bahaya kalo yang muda-muda udah kebentuk karakternya. Biasanya karakter keliatan kalo udah 10-15 tahun nyemplung di dunia foto yang ituuu aja. Daripada udah menentukan 1 karakter, mending buat yang muda-muda keluar dari comfort zone nya masing-masing.. Jangan bilang udah “karakternya fashion” tapi sebetulnya belum nyoba yang laen.

Kalo ngomongin karakter, jadi inget kata-kata seorang teman, Adhitya Himawan, yang juga mengutip kata-kata dari mentornya : Gerard Adi. Mereka perpendapat bahwa lebih baik tidak menentukan 1 karakter tertentu, terlebih lagi dalam dunia commercial photography. Apa yang diminta klien, itulah yang dikerjakan. Kalo terlalu manteng pada karakter khas, lo gakan tahan di dunia commercial. (kurang lebih begitu).

Well, yang jelas jangan sampe ngeliat foto apaaa gitu lalu ditiru sama persis, atau 1 objek dikerubuni rame2 (fenomena bandung banget nih). Itu sih foto yang sama. Jadi gada istimewanya. Foto ya sendiri, angle sendiri.

Pertannyaan berikutnya datang dari Anita yang membahas mengenai keuntungan secara financial dan non-financial (hmm, nampaknya lebih ke moral dan pleasure gitu maksudnya). Mungkin kurangnya demand dikarenakan masyarakat kita sendiri gak tau gimana mengapresiasi seni fotografi. Anit lebih menanyakan kepada effort apa yang bisa dilakukan untuk mendidik masyarakat.

Kalo LBbilang, emang harus dimulai dari masyarakt vvip. Nanti kebawah-bawah ngikutin. Josh sendiri merasa sebetulnya orang Indonesia do love photography. Liat aja ada banyak orang yang foto dimana-mana (baca: foto narsis). Kalo dari SS, pameran WPP kemarin, terutama ditinjau dari hasilnya, merupakan salah satu cara yang efektif mendidik masyarakat untuk mengapresiasi karya fotografi.

Last but not least, obstacle in creating a book.

Josh: “copywriting. It takes forever!”

JA: “bosen, loyal dan kosistensi.

LB :“ide, yang menembus batas standar”.

Oiya, menanggapi tentang cerita kelompok KRL (yang sebetulnya bertanya/memberi anggapan sebelum yang karakter—kalo gak salah) adalah perwujudan ide yang diimplementasikan. “Ide suka overrated. Padahal lebih susah ngewujudin ide. Idem ah ada di mana aja! “ Jerry. Iya sih. Ide kadang-kadang suka tergeletak di lantai atau ngegelinding di jalan. Hehheeh… Bisa dikatakan sebetulnya dari tiap buku “Tema” nya yang mahal .

Well, such an interesting discussion. Diskusi macem gini juga yang lebih gue suka dibandingkan diskusi yang gw alamin 2-3 tahun terakhir di Bandung (alamat bakal join Panna Foto, hahaha). Cerita tentang si pameran itu sendiri akan saya sampaikan secara terpisah di thread sebelah. Hope this review is useful.

Don’t forget to go to the exhibition as fast as you have spare time. Believe me: it’s worth! Catch ya later!

* Sepengetahuan saya, ketika seseorang ingin menerbitkan suatu buku, maka ada sejumlah dana yang menjadi capital/modal. Hal ini logis karena dana inilah yang diandaikan sebagai modal untuk mencetak si buku tersebut. Modal bisa ditanamkan oleh pengarang buku sendiri dan dapat pula berupa kerjasama dengan publisher ataupun sponsor. Sistem harga dan pengambilan keuntungan yang berbeda diterapkan pada buku yang sifatnya pengajaran.

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *