Rumah Jawa




Gempa yang terjadi beberapa waktu silam membuat saya berpikir bangunan mana sajakah yang benar-benar mampu bertahan selepas kejadian tersebut. Tiba-tiba saya teringat dengan pembicaraan tempohari dengan dosen saya mengenai karakteristik rumah yang dimiliki oleh beberapa daerah di Indonesia. Secara spesifik, kami membicarakan mengenai rumah yang berada di Kalimantan Timur, tepatnya Sangatta.

Sangatta adalah kota kecil di Kalimantan Timur, dan data dikatakan salah satu tempat markas operasi Kaltim Prima Coal. Secara sekilas, Sangatta hanya memiliki 1 ruas jalan besar yang memanjang (kalau kata teman saya sih, mirip Indramayu). Lebih jauh, pembangunan kawasan perkotaan Sangatta meliputi penimbunan terhadap banyak derah lahan gambut dan rawa-rawa. Contoh nyata adalah Bukit Plangi.

Bukit Pelangi bukanlah nama kota, tapi merupakan nama kawasan pemerintahan terpadu Sangatta. Pusat pemerintahan dan berbagai instansi kedinasan berpadu disini dalam tatanan kota kecil tersendiri. Bukit Pelangi didirikan di kawasan yang cukup tinggi di tengah-tengah rawa gambut yang merupakan wilayah mayoritas Sangatta. Jalan menuju wilayah ini merupakan jalan yang membelah rawa gambut dan bersifat “pengurugan” kalo bahasa sunda-nya mah (artinya penimbunan). Jalan tersebut memiliki jarak tempuh yang cukup jauh dari jalan utama Sangatta. Sayangnya, beberapa ruas jalan ini saat ini banyak yang telah terendam. Jadi apabila Anda tidak memiliki mobil berketinggian cukup atau mobil 4WD, saya sarankan jangan melewati bagian jalan yan terendam ini.
Sebetulnya masalah ini telah diperkirakan sebelumnya.1Penimbunan wilayah rawa oleh tanah secara logis akan mengangkat ketinggian air di sekitar daerah timbunan. Karena rawa adalah air yang t mengalir maka sebetulnya debit air yang ada cenderung tetap. Tapi masalahnya adalah 1 : apa yang berada di atasnya. Dimana ada jalan, disitu ada lalu-lintas. Dimana ada lalu-lintas disana ada manusia. Dimana ada manusia, artinya ada sumber kehidupan. Ya, saat ini makin banyak rumah yang berdiri di sepanjang jalan menuju Bukit Pelangi. Rumah-rumah tersebut mayoritas berbentuk panggung untuk mengatasi permasalahan air yang menggenang di bawahnya.
Sebetulnya, rumah panggung adalah bentuk asli dari rumah-rumah di Kawasan Kalimantan Timur, khususnya Sangatta. Kenapa? Hal ini berdasarkan topografi dan karakter wilayah yang mendominasi kawasan itu: rawa. Sejak pembangunan Sangatta beberapa tahun silam, pembangunan ini meliputi pembangunan infrastruktur jalan dan perumahan. Namun, sumber tenaga manusia, otak dari perencanaan wilayah tersebut adalah berkonsep tanah Jawa. Apa artinya?

Hal inilah yang diutarakan oleh dosen saya: “Rumah Jawa kok dibawa ke Kalimantan. Ya tenggelam lah!” Maksud dari kalimat ini adalah bentuk rumah itu sendiri beserta tatanan kotanya. Konsep perumahan di Jawa (dan rumah Indonesia pada umumnya) adalah rumah bersemen berdinding bata. Dan dosen saya mengatakan adalh salah jika konsep tersebut diberlakukan di seluruh wilayah di Indonesia. Dan kembali saya diingatkan bahwa pembangunan rumah kawasan Sangatta seharusnya berkonsep rumah panggung. Pembangunan menggunakan konsep rumah bata memang mulai terlihat kekurangannya di sana-sini. Sirkulasi air rawa yang tidak lancar, banyak genangan, air hujan yang tidak mengalir, rusaknya beberapa infrasturktur jalan, dan lain-lain. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit (seperti DB dan malaria) dan berpotensi menjadi epidemi (karena permasalah tadi mencakup hampir di seluruh bagian kota). BAiknya rumah system panggung di daerah ini adalah untuk menjanga sirkulasi air rawa tetap lancar sehingga (setidaknya) mash dapat mengalir (sumber penyakit berasal dari air yang tidak bergerak).

Mungkin kita perlu mengkaji kemari bentuk asal rumah di daerah-daerah di Indonesia. Hal ini tak hnaya terkait dengan aspek aestetis saja melainkan aspek ergonomis (fungsi) yang berakibat pada karakter budaya setempat. Coba kita lihat gempa Nias yang terjadi beberapa tahun silam. Rumah-rumah di sana mayoritas hancur tapi anehnya rumah yang bertahan adalah rumah yang berumur 200 tahun. Aneh? Saya jawab: tidak. Rumah yang bertahan tersebut merupakan rumah adat yang memang dilestarikan. Berwujud rumah panggung, rumah tersebut memang benar berusia 200 tahun. Dahulunya, rumah bentuk sepertii iulah yang mayoritas mengisi daerah ini hingga rumah-bata datang. Kenapa berwujud rumah panggung? Berdasarkan informasi setempat, dahulu memang sering terjadi gempa-gempa kecil di kawasan Nias, sehingga dibuatlah rumah panggung. Hmm..dari sini kita dapat melihat, budaya datang dari alam, dan datang dengan penelitian. Mereka memang bukanlah arsitek, tapi mereka tentunya melakukan apa yang saat ini kita sebut research saat membuat rumah tersebut. Riset inilah yang kedepannya berkembang dan tergabung dalam kesatuan budaya setempat.

Saya jadi berpikir kembali tentang bentuk-bentuk rumah di Nusantara. Ada joglo, ada gadang, ada honai (entah kenapa nama 3 rumah tersebut yang terbanyang di kepala saat memikirkan artikel ini). Jadi teringat masa-masa SD dimana kita wajib menghapal baju daerah dan rumah tradisional 😀 Saya hanya berspeulasi (dan berasumsi) rumah Joglo mungkin terinspirasi dari Jawa dataran rendah yang panas, sehingga membutuhkan sirkulasi udara yang bagus (hal inilah yang menurut saya menyebabkan banyaknya daerah terbuka dan beserta pilar dan langi-langit yang tinggi di tengahnya. Selain itu, mungkin juga ini akibat budaya Jawa yang suka selametan, sekatenan, atau apalah itu namanya sehingga sekat rumah bersifat temporer sehingga bila hendak merayakan sesuatu (saking seringnya) memudahkan untuk ditata.

Lain lagi pikiran saya mengenai rumah Gadang. Beberapa dari rumah gadang digunakan sebagai lumbung beras (hal ini termasuk rumah gadang milik keluarga teman saya). Rumah gadang diciptakan besar karena memang budayanya yang berkumpul di satu rumah. Mungkin kebrsamaan seperti ini sangat dihargai mengingat masyarakat mereka yang hobby merantau ke luar pulau kali yah? Hahhaa..
Dan untuk Honai, saya belum kepikiran apapun….

Hmmh…Indonesia betul-betul kaya, akan aestetik dan fungsi. Orang Indonesia dari dulu pinter meen!! Arsitek pada jamannya! Plus seniman! Combo dah…dan saya harpa sih, hal ini tidak kembali di-klaim Malaysia sebagai kepunyaan mereka. Duh…cape deh…gak orisinal banget sih tuh Negara.
Semoga bermanfaat! Maaf blum bisa mengungkapkan data yang valid (seperti dari buku atau semacamnya).
Thanks to Pak Pindi Setiawan (Dosen saya yang luar biasa dan amat sangat jatuh cinta dengan Kalimantan); partner perjalanan saya, Nadia Mahatmi(yang membantu mendeskripsikan Sangatta yang menurut saya kelewat biasa dan gak tau neejelasinnya gimana); dan Pak Ketum saya, Mohamad Haekal (yang menjelaskan kenapa yang muncul di otak saya rumah gadang, karena saya baru saja melihat fotonya di Fb dan dia menerangkannya! 🙂 )

1 Sebetulnya pembangunan jalan menuju Bukit Pelangi direncanakan berkonsep “jalan layang”/ jembatan yang membelah rawa Sangatta. Hal ini dimaksudkan untuk membuat sirkulasi air tetap alncar dan tidak menimbulkan genangan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya. Hanya saja, sehubungan Sangatta merupakan kota kecil di Kalimantan Timur (kurang lebih 4-5 jam dari Banjarmasin), dana yang terkait untuk pembangunan jembatan ini luar biasa besar. Yah, masalah klasik: dana. Pejabat setempat mengatakan “buat bikin jalan doang kok mahal amat ya?!”. Yah..terserahlah. Saya jamin sih (melihat kondisi sekarang) jika dibiarkan dalam 3 tahun kurang jalannya akan total rusak akibat rawa gambut yang ber-nitrat tinggi. Well, you pay the cause, you gain the result!

Recent Posts

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *